Sugeng Rawuh Wonten Blog-ipun Piyantun Ndeso nanging Radi Cerdas............

Sunday, March 13, 2016

Kumpulan Soal Matematika Kelas 2 SD Jilid 1



Disertai Kunci Jawabannya.

Ternyata belajar matematika logika itu menyenangkan sekali lho….


Silahkan dicoba ya……..






Pahami soalnya, baru dikerjakan. Selamat mencoba…..

01.    Berat badan Nirmala 27 Kg. Berapa gramkah berat badan Nirmala ?
02.    Jika sekarang jam 14.00, maka 5 jam lalu adalah jam ………….
03.    Jika berat 1 kaleng kue 25 ons, berapa Kg berat 4 kaleng kue?
04.    90 cm + 60 cm + 75 cm – 25 cm =……….cm = …….. m.
05.    Tinggi sebuah meja 70 cm, dan panjangnya 1 meter 65 cm. Berapa selisih antara tinggi meja dengan panjang meja?
06.    Pak Adi pulang kerja jam 18.30. Sedangkan Pak Rahmat pulang kerja lebih cepat 4 jam dari Pak Adi. Jam berapa Pak Rahmat pulang kerja?
07.    Pak Paiman memanen buah jeruk dikebunnya. Sebanyak 225 Kg buah jeruknya dijual ke pasar, dan 27 Kg sisanya dibagikan ke saudara-saudaranya. Berapa Kg berat buah jeruk yang dipanen oleh Pak Paiman hari ini?
08.    Enam ribu tujuh ratus dua ditulis………
09.    Selama 5 hari berturut-turut Ani berhasil menjual 79, 80, 106, 72, 123 pensil. Berapa total jumlah pensil yang Ani jual?
10.    Tambahkan 623 dengan 208, kemudian kurangi dengan 418. Berapa hasilnya?
11.    Bilangan sebelum 200 adalah …….
12.    Berapa nilai angka 7 pada bilangan 674?
13.    Enam Kg 15 ons = ………….. ons.
14.    Pada jam 16.40, jarum panjang tepat menunjukkan angka ……..
15.    Pak Bani memerlukan waktu 70 menit untuk memotong bambu menjadi 2 bagian. Jika Pak Bani memotong dengan cara yang sama, berapa waktu yang dibutuhkan Pak Bani untung memotong bambu menjadi 4 bagian?
16.    Lebih lama manakah dari jam 14.30 sampai jam 17.00 atau dari jam 17.00 sampai jam 20.30?
17.    Pada bilangan 672, berapakah jumlah angka satuan dengan angka ratusannya?
18.    Pada bilangan 185, berapakah selisih angka puluhan dengan angka ratusannya?
19.    Misalkan, sekarang hari Rabu tanggal 6 Agustus. 16 hari yang akan datang adalah hari dan tanggal ………..
20.    Nia bangun tidur pada jam 05.30 pagi. Jika Nia tidur 9 jam, jam berapa Nia mulai tidur malam?

Betulkan? Ternyata mengasyikkan juga ya belajar matematika itu……

Kunci Jawaban :
01.    27.000 gram
02.    09.00
03.    10 Kg
04.    200 cm = 2 m
05.    95 cm
06.    14.30
07.    252 Kg
08.    6.702
09.    460 pensil
10.    413
11.    199
12.    70
13.    75
14.    8
15.    210 menit
16.    17.00 sampai jam 20.30
17.    8
18.    20
19.    Jumat, 22 Agustus
20.    20.30

Didapat dari berbagai sumber..................

Saturday, March 5, 2016

Mencegah Penyakit Kekerdilan pada Ayam

Tips Praktis Mencegah Ayam Kerdil

Kekerdilan pada ayam memang disebabkan oleh bibit yang kurang baik, namun tidak hanya itu saja yang menyebabkan kekerdilan pada ayam, ternyata faktor manajemen pemeliharaan juga merupakan faktor yang membuat ayam itu kerdil atau tidak dapat tumbuh dengan normal.

Kasus ayam kerdil atau pertumbuhan lambat (slow growth) tidak hanya menyerang pada ayam pedaging saja, kasus ini juga bisa terjadi pada ayam pullet. Jadi diperlukan manjemen pemeliharaan yang baik untuk mencegah atau paling tidak untuk meminimalisir slow growth pada peternakan.

Biasanya, jika sudah dijumpai ayam kerdil di peternakan, sebaiknya ayam tersebut segera untuk dimusnahkan atau dipanen dini apabila memungkinkan untuk menghindari kerugian lebih lanjut. Pemusnahan ayam dapat dilakukan pada ayam pullet yang mengalami kekerdilan. Selain dua faktor diatas, musim penghujan juga memiliki peran terhadap kasus ayam kerdil ini. Pada saat musim penghujan, kasus penyakit yang terjadi biasanya adalah penyakit-penyakit yang terkait dengan pernafasan dan pencernaan. Penyakit kekerdilan pada ayam ini dapat terjadi karena berbagai sebab, bisa karena pencernaan terkait dengan pakan, bibit ayam itu sendiri yang jelek atau bisa juga dari serangan virus. Kaitan antara musim penghujan dan pakan adalah pada soal kualitas pakan dan manajemen penyimpanan pakan di kandang. Bahkan musim penghujan sangat erat berkaitan dengan soal kualitas pakan yang ditumbuhi jamur yang bisa menyebabkan mikotoksikosis yang ujung-ujungnya juga bisa menyebabkan kekerdilan pada ayam. Jadi diperlukan perhatian khusus dalam penyimpanan pakan pada saat musim penghujan, sehingga tidak mudah ditumbuhi jamur.
Adanya jamur, cadinda, maldigesti, dan kapang bisa menyebabkan absorbsi di usus. Dahulu kejadian ini hanya terjadi pada ayam  broiler, namun hal tersebut sekarang juga bisa terjadi pada ayam layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhannya terhambat, umur masa produksi juga melambat. Secara patologi anatomi terjadi kerusakan usus, pankreas, dan proventrikulus yang menyebabkan terjadinya malabsorbsi.

Lingkungan yang curah hujannya cukup tinggi juga bisa menyebabkan kadar oksigen turun drastis, terutama didaerah pegunungan dan ditunjang lagi dengan kurangnya pemanas. Hal ini juga bisa berpengaruh dengan pertumbuhan ayam secara normal. Ketika cuaca tidak beraturan, ini yang menyebabkan kelembaban, suhu, level oksigen dan CO menjadi sangat sulit untuk diatur dan dikendalikan dalam hatchery. Padahal kita tahu bahwa embrio modern sangat rentan dalam hal kebutuhan oksigen. Tercukupi atau tidaknya oksigen sangat berpengaruh pada aktifitas ayam termasuk dalam kegiatan makan.

Pada masa brooding juga memberikan peran yang tidak kalah pentingnya. Ketika akhirnya peternak memutuskan memasukkan DOC (Day Old Chick / anak ayam umur sehari ) ke dalam kandang, persiapannya brooding harus sudah siap. Persiapan tersebut meliputi chick guard, pemanas, tirai dalam, tirai luar, tempat minum dan tempat pakan. Jika kandang berwujud kandang panggung, maka seluruh lantai harus ditutup. Chick guard berdiameter 3 M untuk 750 ekor, kemudian pemanas dinyalakan 2 jam sebelum DOC datang. Yang perlu diperhatikan pula yakni suhu brooding setiap saat terutama pada dini hari saat suhu terdingin yaitu sekitar jam 2 pagi, dan pada saat siang hari saat suhu terpanas antara jam 11-14. Bila konrol suhu dapat dilakukan dengan baik, maka anak ayam akan merasa nyaman. Suhu yang tidak terlalu panas atau tidak terlalu dingin, membuat anak ayam dapat makan dan minum dengan baik. Untuk mengatasi masalah kekerdilan pada ayam dengan kondisi lingkungan yang sangat dingin, pemanas harus kuat betul. Yang terpenting adalah kepekaan terhadap suhu. Usahakan ada thermometer di setiap kandang. Jika tidak ada dapat menggunakan tubuh peternak sebagai patokan dan atau melihat pola penyebaran anak ayam yang merata pada saat itu. Peternak harus tahu kapan mengatur suhu brooding dan kandang.

Perlu diingat, kondisi brooding akan mempengaruhi penyerapan kuning telor. Bila suhu terlalu panas, kuning telor akan menjadi kering, begitu pula sebaliknya jika tidak panas, saluran kuning telor akan menyempit. Kedua-duanya akan menyebabkan kuning telor menjadi tidak sempurna. Padahal dalam kuning telor selain terdapat cadangan makanan, hormon, vitamin, juga merupakan sumber kekebalan yang diturunkan dari induk. Bila kuning telor tidak terserap sempurna, akan ada masalah kesehatan pada anak ayam. Hal itu penting untuk menjaga kekbalan pada anak ayam, sebab apabila kekebalan yang diwariskan dari induk lemah, bisa menyebabkan ayam mengalami gagal dalam pertumbuhannya dan rentan terhadap berbagai macam penyakit.

Selain itu, penyesuaian tirai juga harus dilakukan dengan rajin. Ada saatnya membuka, dan ada saatnya menutup, bahkan menutup tirai dengan rangkap. Dalam kondisi hujan yang terus menerus dan kondisi cuaca berkabut, diperlukan tirai tambahan. Namun sayangnya dalam kenyataannya untuk daerah-daerah yang dingin, tirai tidak dibuat rangkap. Tirai rangkap sangat dibutuhkan pada kondisi ini. Kemudian operator jangan sampai teledor dalam mengatur pemanas kandang. Jika ingin praktis, atau mengurangi kelemahan ini, bisa digunakan pemanas yang otomatis. Pemberian disinfektan pada pusar ayam yang basah juga diperlukan. Tindakan ini bertujuan untuk meminimalisir infeksi yang berakibat kerdil pada ayam.

Yang paling penting, jika ditemui adanya ayam yang menunjukkan cirri-ciri kekerdilan, maka sesegera mungkin untuk mengeliminasinya dengan tujuan untuk menghindari persebaran penyakit ke ayam yang lainnya. Dan untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi karena ayam yang mengalami kekerdilan akan makan sebagaimana layaknya ayam yang normal, namun pertumbuhan beratnya tidak mencapai separuh dari berat ayam yang normal.
                                                                                 

Didapat dari berbagai sumber………….

Mengatasi Penyakit NE dan Koksidiosis pada Ayam



Banyak dari kita yang sering dikecohkan oleh dua penyakit diatas yakni NE (Necrotic Enteritis) dan Koksidiosis dalam dunia perunggasan. Dua penyakit ini sama-sama menyebabkan kerusakan di saluran pencernaan. Sebagai penyedia protein hewani, komoditas perunggasan masih memegang peranan penting di negeri ini. Ayam merupakan salah satu komoditas yang cepat berproduksi dan banyak dipelihara oleh masyarakat luas karena relatif mudah dan murah dalam pemeliharaannya. Ini yang kemudian menjadikan alasan untuk mendorong perkembangan usaha peternakan ayam di Indonesia. Namun demikian, usaha peternakan ayam sering mengalami berbagai hambatan oleh berbagai sebab, diantaranya yakni kegagalan peternak dalam mengontrol penyakit pada hewan ternaknya. Salah satu diantaranya yaitu penyakit koksidiosis.

Wabah koksidiosis masih menjadi masalah utama dalam dunia peternakan. . Kejadian koksidiosis pada peternakan ayam dapat menimbulkan berbagai masalah seperti penurunan produksi telor, penurunan berat badan, besarnya angka kematian, biaya pengobatan dan terlambatnya masa produksi. Koksidiosis juga dinilai sebagai faktor pemicu timbulnya Necrotic Enteritis (NE) akibat kerusakan usus yang berawal dari akibat infeksi koksidia.

NE (Necrotic Enteritis) merupakan jenis penyakit yang sering timbul sebagai ikutan dari penyakit koksidiosis. Kasus NE tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern, namun demikian juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam layer komersial serta breeder (ayam pembibit). Kasus koksidiosis maupun NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi pencernaan. Dua penyakit ini sangat merugikan secara ekonomis  karena berkenaan dengan gangguan efisiensi pakan dan gangguan pertumbuhan hingga kematian pada ternak.

Koksidiosis

Penyakit koksidiosis ini oleh para peternak dikenal dengan sebutan penyakit berak darah. Penyakit ini disebabkan oleh parasit yang menyerang bagian spesifik dari saluran pencernaan. Pada ayam dikenal 9 (sembilan) spesies Eimeria yang berparasit pada berbagai bagian usus, yakni Eimeria mitis, Eimeria maxima, Eimeria brunette, Eimeria acervulina, Eimeria hagani, Eimeria tenella, Eimeria praecox, Eimeria mivati dan Eimeria necatrix.
Berdasarkan tingkat keparahan penyakit, koksidiosis dibedakan menjadi 2 macam yakni : Koksidiosis Sekum (Eimeria tenella) dan Koksidiosis Intestinalis.
Eimeria tenella bersifat sangat pathogen pada ayam karena dapat menyebabkan perdarahan pada sekum akibat adanya kerusakan sampai dibawah sub mukosa sekum, hingga epitel sekum terkelupas. Gejala yang nampak yakni berak darah hingga dapat menyebabkan kematian. Jenis Eimeria lainnya yakni Eimeria acervulina, Eimeria brunette dan Eimeria maxima dapat menyebabkan kerusakan usus sehingga mengganggu penyerapan makanan dan itu berdampak pada produksi telor dan daging, sedangkan Eimeria hagani, Eimeria praecox, Eimeria mitis dan Eimeria mivati bersifat kurang patogen pada ayam. Patogenitas tergantung pada jumlah ookista, jumlah sel inang yang rusak, lokasi Eimeria pada usus, umur ayam, kekebalan, dan stres.
Gejala klinik yang terjadi pada kasus koksidiosis sangat bervariasi, tergantung umur ayam yang terserang, jenis dan patogenitas Eimeria dan lokasi infeksi. Pada ayam yang mengalami koksidiosis akan mengalami penurunan nafsu makan, lesu, jengger dan pial pucat. Pada umumnya sering dijumpai tinja bercampur darah (Eimeria tenella) . Pada pemeriksaan bedah bangkai akan ditemukan perdarahan pada sekum (Eimeria tenella), keru.sakan usus tergantung dari spesies Eimeria yang menyerang.
Peneguhan diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan feses atau scrapping usus untuk melihat adanya ookista. Beberapa ookista yang ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik dari feses atau preparat apus dari mukosa usu dapat memberikan petunjuk adanya infeksi, tetapi bukan suatu diagnosis koksidiosis yang menimbulkan gejala klinik dan kerugian ekonomi. Ookista mungkin berasal dari spesies Eimeria yang bersifat non patogenik atau mempunyai patogenitas rendah sehingga belum tentu dapat menyebabkan wabah koksidiosis.

NE (Necrotic Enteritis)

Penyakit NE disebabkan oleh bakteri Clostridium Perfringens tipe A dan C, yang merupakan agen penyakit yang secara normal hidup disaluran pencernaan ayam. Bakteri ini merupakan bakteri gram positif yang hidup di sekum ayam dalam kondisi anaerob. Namun jika terjadi perubahan lingkungan dalam saluran pencernaan ayam, misalnya terjadi gangguan keseimbangan sistem pencernaannya, bakteri akan memperbanyak diri dan bergerak menuju ke saluran pencernaan atas. Selama perjalanan menuju saluran pencernaan atas inilah bakteri akan mengeluarkan toksin yang akan menyebabkan kerusakan mukosa usus, menghambat penyerapan nutrisi, kekurangan darah, toksemia hingga kematian.
Clostridium Perfringens hanya dapat menyebabkan NE jika terjadi perubahan dari bakteri non toksik menjadi bakteri yang mampu menghasilkan  toksin. Toksin alfa dihasilkan oleh Clostridium Perfringens tipe A dan toksin alfa dan beta dihasilkan oleh Clostridium Perfringens tipe C. Peningkatan populasi Clostridium Perfringens pada usus akan disertai dengan pembentukan enterotoksin yang dapat menyebabkan kematian dan menimbulkan  kerugian ekonomi.
Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium Perfringens, seringkali ayam mengalami diare dengan kotoran encer berwarna merah kecoklatan (seperti warna buah pepaya) dan terkadang fesesnya bercampur dengan sejumlah material pakan yang tidak tercerna secara sempurna.
Akibat diare, litter nampak basah dan cemaran ammonia meningkat, sehingga akan memperparah kondisi ayam dan meningkatkan jumlah kematian.
Gejala klinis Necrotic Enteritis lainnya yang dapat terlihat yakni malas bergerak, depresi hingga penurunan nafsu makan. Dalam pemeriksaan bedah bangkai akan dijumpai kerusakan pada usus halus, terutama di daerah jejunum dan ileum. Usus menjadi  rapuh dan menggembung karena terisi gas yang dihasilkan oleh bakteri. Pada kasus NE subklinis, biasanya tidak terjadi kematian ayam dalam jumlah yang mencolok, namun ditandai adanya diare, pertumbuhan yang tidak normal, dan FCR yang jelek.

Dilapangan seringkali ditemukan serangan koksidiosis yang menstimulasi serangan NE. .Hal tersebut dapat terjadi akibat adanya perdarahan yang terjadi akibat serangan koksidia yang dapat menimbulkan kerusakan usus sehingga membuat usus peka terhadap infeksi. Kondisi ini memicu terbentuknya kolonisasi bakteri anaerob, yaitu Clostridium Perfringens, yang akan diikuti oleh serangan NE.
Gangguan pertumbuhan yang terjadi akibat kedua penyakit ini disebabkan oleh rusaknya dinding usus oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium Perfringens, dimana terjadi gangguan penyerapan nutrisi pakan oleh dinding  usus. Semakin berat lesi pada usus, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu diserap oleh dinding usus, sehingga akan sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, imbuan ini sangatlah bijak dan benilai ekonomis. Koksidiosis merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya NE, sehingga dalam usaha pencegahan NE juga harus mencakup pemberian anti-koksidia selain antibiotika. Kekebalan ayam terhadap Eimeria sp. dapat dirangsang dengan vaksinasi terhadap koksidiosis tanpa menggunakan pakan yang menggunakan koksidiostat atau penggunaan koksiodiostat dalam pakan selama periode starting dan growing dalam masa pemeliharaan ayam. Vaksinasi terhadap koksidiosis menggunakan ookista hidup yang dilemahkan, dapat diberikan bersama pakan atau air minum. Walaupun hasil vaksinasi ini tidak dapat mencegah kejadian koksidiosis secara tuntas, namun letupan penyakit ini dapat ditekan. Kontak antar ayam dalam ookista dalam jumlah moderat pada saat ayam masih mendapatkan koksidiostat bersama pakan dapat merangsang pembentukan kekebalan terhadap Eimeria sp.
Beberapa upaya pencegahan lainnya yang bisa dilakukan yakni dengan melakukan manajemen beternak yang baik dan mengutamakan  kebersihan lingkungan ayam. Penggunaan prebiotik untuk pengendalian NE juga telah banyak dilakukan dan memberikan hasil yang cukup memuaskan.

Pada kasus koksidiosis, berikan obat secara tepat, baik aturan pakai maupun dosisnya. Obat koksidiosis biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yakni 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa obat, dan 3 hari obat. Golongan obat koksidiosis yang sering digunakan adalah sulfonamide dan thiamine antagonist (amprolium). Obat koksidiosis golongan sulfonamide lebih efektif untuk mengatasi koksidiosis intestinalis yaitu Eimeria acervulina dan Eimeria maxima. Namun Sulfaquinoxaline dan Sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk koksidiosis sekum (Eimeria tenella) . Potensi obat akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin) . Obat golongan thiamine antagonis seperti amprolium, jika dikombinasikan dengan Sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi terhadap koksidiosis sekum maupun intestinalis.
Pada umumnya menurut pengalaman para peternak dilapangan, kasus NE yang merupakan kasus bacterial biasanya dapat diatasi dengan penggunaan antibiotika. Sedangkan pengendalian koksidiosis tentunya menjadi kunci utama, yang dapat mengurangi resiko terjadinya kasus NE pada ayam.
Pada dasarnya kejadian koksidiosis dan NE masih mewarnai dunia perunggasan dan dinilai cukup merugikan. Pencegahan merupakan tindakan lebih baik untuk dilaksanakan.


Didapat dari berbagai sumber…………..