Sugeng Rawuh Wonten Blog-ipun Piyantun Ndeso nanging Radi Cerdas............

Saturday, March 5, 2016

Mengatasi Penyakit NE dan Koksidiosis pada Ayam



Banyak dari kita yang sering dikecohkan oleh dua penyakit diatas yakni NE (Necrotic Enteritis) dan Koksidiosis dalam dunia perunggasan. Dua penyakit ini sama-sama menyebabkan kerusakan di saluran pencernaan. Sebagai penyedia protein hewani, komoditas perunggasan masih memegang peranan penting di negeri ini. Ayam merupakan salah satu komoditas yang cepat berproduksi dan banyak dipelihara oleh masyarakat luas karena relatif mudah dan murah dalam pemeliharaannya. Ini yang kemudian menjadikan alasan untuk mendorong perkembangan usaha peternakan ayam di Indonesia. Namun demikian, usaha peternakan ayam sering mengalami berbagai hambatan oleh berbagai sebab, diantaranya yakni kegagalan peternak dalam mengontrol penyakit pada hewan ternaknya. Salah satu diantaranya yaitu penyakit koksidiosis.

Wabah koksidiosis masih menjadi masalah utama dalam dunia peternakan. . Kejadian koksidiosis pada peternakan ayam dapat menimbulkan berbagai masalah seperti penurunan produksi telor, penurunan berat badan, besarnya angka kematian, biaya pengobatan dan terlambatnya masa produksi. Koksidiosis juga dinilai sebagai faktor pemicu timbulnya Necrotic Enteritis (NE) akibat kerusakan usus yang berawal dari akibat infeksi koksidia.

NE (Necrotic Enteritis) merupakan jenis penyakit yang sering timbul sebagai ikutan dari penyakit koksidiosis. Kasus NE tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern, namun demikian juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam layer komersial serta breeder (ayam pembibit). Kasus koksidiosis maupun NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi pencernaan. Dua penyakit ini sangat merugikan secara ekonomis  karena berkenaan dengan gangguan efisiensi pakan dan gangguan pertumbuhan hingga kematian pada ternak.

Koksidiosis

Penyakit koksidiosis ini oleh para peternak dikenal dengan sebutan penyakit berak darah. Penyakit ini disebabkan oleh parasit yang menyerang bagian spesifik dari saluran pencernaan. Pada ayam dikenal 9 (sembilan) spesies Eimeria yang berparasit pada berbagai bagian usus, yakni Eimeria mitis, Eimeria maxima, Eimeria brunette, Eimeria acervulina, Eimeria hagani, Eimeria tenella, Eimeria praecox, Eimeria mivati dan Eimeria necatrix.
Berdasarkan tingkat keparahan penyakit, koksidiosis dibedakan menjadi 2 macam yakni : Koksidiosis Sekum (Eimeria tenella) dan Koksidiosis Intestinalis.
Eimeria tenella bersifat sangat pathogen pada ayam karena dapat menyebabkan perdarahan pada sekum akibat adanya kerusakan sampai dibawah sub mukosa sekum, hingga epitel sekum terkelupas. Gejala yang nampak yakni berak darah hingga dapat menyebabkan kematian. Jenis Eimeria lainnya yakni Eimeria acervulina, Eimeria brunette dan Eimeria maxima dapat menyebabkan kerusakan usus sehingga mengganggu penyerapan makanan dan itu berdampak pada produksi telor dan daging, sedangkan Eimeria hagani, Eimeria praecox, Eimeria mitis dan Eimeria mivati bersifat kurang patogen pada ayam. Patogenitas tergantung pada jumlah ookista, jumlah sel inang yang rusak, lokasi Eimeria pada usus, umur ayam, kekebalan, dan stres.
Gejala klinik yang terjadi pada kasus koksidiosis sangat bervariasi, tergantung umur ayam yang terserang, jenis dan patogenitas Eimeria dan lokasi infeksi. Pada ayam yang mengalami koksidiosis akan mengalami penurunan nafsu makan, lesu, jengger dan pial pucat. Pada umumnya sering dijumpai tinja bercampur darah (Eimeria tenella) . Pada pemeriksaan bedah bangkai akan ditemukan perdarahan pada sekum (Eimeria tenella), keru.sakan usus tergantung dari spesies Eimeria yang menyerang.
Peneguhan diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan feses atau scrapping usus untuk melihat adanya ookista. Beberapa ookista yang ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik dari feses atau preparat apus dari mukosa usu dapat memberikan petunjuk adanya infeksi, tetapi bukan suatu diagnosis koksidiosis yang menimbulkan gejala klinik dan kerugian ekonomi. Ookista mungkin berasal dari spesies Eimeria yang bersifat non patogenik atau mempunyai patogenitas rendah sehingga belum tentu dapat menyebabkan wabah koksidiosis.

NE (Necrotic Enteritis)

Penyakit NE disebabkan oleh bakteri Clostridium Perfringens tipe A dan C, yang merupakan agen penyakit yang secara normal hidup disaluran pencernaan ayam. Bakteri ini merupakan bakteri gram positif yang hidup di sekum ayam dalam kondisi anaerob. Namun jika terjadi perubahan lingkungan dalam saluran pencernaan ayam, misalnya terjadi gangguan keseimbangan sistem pencernaannya, bakteri akan memperbanyak diri dan bergerak menuju ke saluran pencernaan atas. Selama perjalanan menuju saluran pencernaan atas inilah bakteri akan mengeluarkan toksin yang akan menyebabkan kerusakan mukosa usus, menghambat penyerapan nutrisi, kekurangan darah, toksemia hingga kematian.
Clostridium Perfringens hanya dapat menyebabkan NE jika terjadi perubahan dari bakteri non toksik menjadi bakteri yang mampu menghasilkan  toksin. Toksin alfa dihasilkan oleh Clostridium Perfringens tipe A dan toksin alfa dan beta dihasilkan oleh Clostridium Perfringens tipe C. Peningkatan populasi Clostridium Perfringens pada usus akan disertai dengan pembentukan enterotoksin yang dapat menyebabkan kematian dan menimbulkan  kerugian ekonomi.
Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium Perfringens, seringkali ayam mengalami diare dengan kotoran encer berwarna merah kecoklatan (seperti warna buah pepaya) dan terkadang fesesnya bercampur dengan sejumlah material pakan yang tidak tercerna secara sempurna.
Akibat diare, litter nampak basah dan cemaran ammonia meningkat, sehingga akan memperparah kondisi ayam dan meningkatkan jumlah kematian.
Gejala klinis Necrotic Enteritis lainnya yang dapat terlihat yakni malas bergerak, depresi hingga penurunan nafsu makan. Dalam pemeriksaan bedah bangkai akan dijumpai kerusakan pada usus halus, terutama di daerah jejunum dan ileum. Usus menjadi  rapuh dan menggembung karena terisi gas yang dihasilkan oleh bakteri. Pada kasus NE subklinis, biasanya tidak terjadi kematian ayam dalam jumlah yang mencolok, namun ditandai adanya diare, pertumbuhan yang tidak normal, dan FCR yang jelek.

Dilapangan seringkali ditemukan serangan koksidiosis yang menstimulasi serangan NE. .Hal tersebut dapat terjadi akibat adanya perdarahan yang terjadi akibat serangan koksidia yang dapat menimbulkan kerusakan usus sehingga membuat usus peka terhadap infeksi. Kondisi ini memicu terbentuknya kolonisasi bakteri anaerob, yaitu Clostridium Perfringens, yang akan diikuti oleh serangan NE.
Gangguan pertumbuhan yang terjadi akibat kedua penyakit ini disebabkan oleh rusaknya dinding usus oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium Perfringens, dimana terjadi gangguan penyerapan nutrisi pakan oleh dinding  usus. Semakin berat lesi pada usus, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu diserap oleh dinding usus, sehingga akan sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, imbuan ini sangatlah bijak dan benilai ekonomis. Koksidiosis merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya NE, sehingga dalam usaha pencegahan NE juga harus mencakup pemberian anti-koksidia selain antibiotika. Kekebalan ayam terhadap Eimeria sp. dapat dirangsang dengan vaksinasi terhadap koksidiosis tanpa menggunakan pakan yang menggunakan koksidiostat atau penggunaan koksiodiostat dalam pakan selama periode starting dan growing dalam masa pemeliharaan ayam. Vaksinasi terhadap koksidiosis menggunakan ookista hidup yang dilemahkan, dapat diberikan bersama pakan atau air minum. Walaupun hasil vaksinasi ini tidak dapat mencegah kejadian koksidiosis secara tuntas, namun letupan penyakit ini dapat ditekan. Kontak antar ayam dalam ookista dalam jumlah moderat pada saat ayam masih mendapatkan koksidiostat bersama pakan dapat merangsang pembentukan kekebalan terhadap Eimeria sp.
Beberapa upaya pencegahan lainnya yang bisa dilakukan yakni dengan melakukan manajemen beternak yang baik dan mengutamakan  kebersihan lingkungan ayam. Penggunaan prebiotik untuk pengendalian NE juga telah banyak dilakukan dan memberikan hasil yang cukup memuaskan.

Pada kasus koksidiosis, berikan obat secara tepat, baik aturan pakai maupun dosisnya. Obat koksidiosis biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yakni 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa obat, dan 3 hari obat. Golongan obat koksidiosis yang sering digunakan adalah sulfonamide dan thiamine antagonist (amprolium). Obat koksidiosis golongan sulfonamide lebih efektif untuk mengatasi koksidiosis intestinalis yaitu Eimeria acervulina dan Eimeria maxima. Namun Sulfaquinoxaline dan Sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk koksidiosis sekum (Eimeria tenella) . Potensi obat akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin) . Obat golongan thiamine antagonis seperti amprolium, jika dikombinasikan dengan Sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi terhadap koksidiosis sekum maupun intestinalis.
Pada umumnya menurut pengalaman para peternak dilapangan, kasus NE yang merupakan kasus bacterial biasanya dapat diatasi dengan penggunaan antibiotika. Sedangkan pengendalian koksidiosis tentunya menjadi kunci utama, yang dapat mengurangi resiko terjadinya kasus NE pada ayam.
Pada dasarnya kejadian koksidiosis dan NE masih mewarnai dunia perunggasan dan dinilai cukup merugikan. Pencegahan merupakan tindakan lebih baik untuk dilaksanakan.


Didapat dari berbagai sumber…………..

Thursday, March 3, 2016

Jurnalistik Berbasis Internet



Kata orang sekarang, ini jaman teknologi informasi. Siapa yang tidak membutuhkan informasi? Berkembangnya jaman, memicu pola berkembangnya pola pikir manusia. Ditunjang lagi dengan perkembangan gadget dan layanan internet yang semakin memanjakan penggunanya untuk mencari informasi kapan dan dimana saja. Tidak mengenal waktu dan tempat, sekarang manusia bisa mengakses informasi ke perbagai belahan dunia manapun. Semua tersaji dalam informasi yang cepat dan akurat.
Dulu sebelum mengenal internet, manusia hanya tahu informasi dari media cetak dan media elektronik yang sangat terbatas. Itupun harus menunggu satu hari sesudahnya bahkan lebih. Namun seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, hal tersebut bukan menjadi kendala lagi. Kita langsung bisa mengetahui kejadian dalam waktu bersamaan. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, semua orang bisa terlibat dalam penyajian informasi untuk publik.
Kalau dulu internet merupakan barang yang mahal, namun seiring perkembangan jaman, sekarang banyak provider bersaing menyajikan layanan internet yang cepat dan murah. Ini yang menjadikan berbagai kalangan bisa menikmati berbagai layanan informasi di dunia maya. Dan ini sangat mendukung kegiatan jurnalisme online untuk menyajikan informasi yang tajam, cepat dan akurat. Namun ada yang harus diperhatikan jika kita terjun dalam dunia jurnalistik online, meski semua orang bisa menjadi “wartawan” .

Paul Bradshaw membagi 5 prinsip dasar dalam jurnalisme online yang terkenal dengan istilah BASIC, antara lain :
1.    B : Briety (Ringkas)
Jika menulis berita, janganlah terlalu bertele-tele. Tulislah berita secara ringkas dan dengan bahasa yang bisa dicerna oleh berbagai kalangan (lugas) .  Disamping itu, kebenaran berita juga harus bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan fakta (kenyataan) . Jangan sampai berita yang kita sampaikan, membuat kita terseret dalam unsur pidana.
2.    A : Adaptability (Penyesuaian diri terhadap teknologi)
Dalam jurnalisme online yang memanfaatkan internet untuk menyiarkan suatu berita, si jurnalis harus mempunyai skill dalam teknologi berbasis internet. Ditambah lagi dengan kemampuan dasar, foto, audio dan video dan kemampuan dalam hal editing.
3.    S : Scannability (Mudah dicerna)
Paul Bradshaw mengatakan 95% web user (pengguna web) akan melihat headlines, subheadings, links dan hal-hal lain yang membantu pencarian informasi yang mereka butuhkan.
Untuk sebuah penulisan artikel dengan bahasa yang mudah dicerna, sehingga pembaca dapat memahami artikel yang kita sajikan.
4.    I : Interactivity (Sangat interaktif)
Poin penting dalam jurnalisme online adalah interaktif, dimana viewer bisa menjadi user.
5.    C : Community and Conversation  (Penciptaan komunitas pembaca)
Pada era ini, media online membutuhkan sebuah komunitas jika ingin menguasai pasar. Audiens tidak hanya ditempatkan sebagai pembeli saja, melainkan kontributor aktif, moderator bahkan editor. Internet adalah media yang sangat luas dan tak terbatas. Di internet para pengguna menjadi satu dalam satu wadah. Jurnalisme warga tentunya memanfaatkan peluang ini. Berbagi informasi dalam sebuah komunitas jurnalis.

Banyak informasi yang tersajikan dalam bentuk subyektif, karena banyak orang hanya mengemukakan argumen pribadinya, yang akhirnya bukan menyajikan informasi yang aktual, namun bisa menjadi isu yang tidak bertanggung jawab.
Jika ingin menjadi wartawan jurnalisme online, selain dibutuhkan prinsip dasar jurnalisme online, juga harus menguasai teknik penulisan berita dan etika penulisan berita online.

Hal ini tentunya untuk keakuratan informasi, sehingga berita yang dibuat memang layak untuk dikonsumsi publik. 4 (empat) unsur dalam peristiwa berita, yaitu :
1.   Peristiwa merupakan perubahan keadaan.
2.   Peristiwa yang dilaporkan selalu terjadi.
3.   Peristiwa tersebut dilaporkan manusia.
4.   Peristiwa tersebut berkaitan dengan kepentingan dan minat masyarakat.

Berita yang baik, adalah berita yang mampu menyuguhkan beberapa hal sebagai berikut: ·
1.   Akurat Berita yang baik adalah berita yang mampu menjawab pertanyaan 5W + 1H.
      What : mengenai peristiwa apa yang terjadi;
      Who : mengacu pada tokoh yang berperan dalam peristiwa itu;
      When : kapan peristiwa itu terjadi;
      Where : tempat kejadian suatu peristiwa;
      Why : menceritakan mengapa peristiwa itu terjadi;
      How : menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi.
      Selain itu, bisa juga ditambahkan faktor “wow” berkaca dari masyarakat. Peristiwa yang sedang booming, sehingga masyarakat ingin mengetahui perkembangan peristiwa itu. Berita yang mampu menjawab pertanyaan itu, merupakan berita yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai jurnalis, kita harus memberikan berita yang benar dan tidak menyesatkan.
2.  Verifikasi Untuk menghasilkan sebuah berita yang layak, tidak cukup hanya menjawab 5w+1h saja. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah verifikasi berita, mengenai kebenaran berita itu. Verifikasi berita harus dilakukan pada orang yang memiliki kapabilitas untuk menyampaikan peristiwa terkait. Sehingga bukan hanya sekedar asal-asalan atau argumen pribadi semata.
 3. Berimbang Tindak lanjut dari verifikasi berita adalah keberimbangan. Berita harus berimbang atau cover both side, sehingga tidak hanya mengulas kepentingan dari satu pihak. Sebagai jurnalis, sekalipun jurnalis pribadi yang tidak formal, pada dasarnya jurnalis berada pada titik netral. Sehingga tidak bisa hanya mencari tahu dari satu narasumber saja dan tidak merugikan salah satu pihak.
4.   Obyektif Sebagai pihak yang netral, diharapkan hasil berita bersifat obyektif. Obyektifitas berita sangat perlu ditekankan karena berhubungan dengan persepsi masyarakat yang membaca berita. Kekuatan dari media massa adalah mampu mempengaruhi pendapat khalayak ramai. Sebagai kegiatan jurnalisme, jurnalisme online tidak boleh mengabaikan kode etik jurnalistik, begitu juga dengan jurnalisme pribadi. Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur hal itu yaitu Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Sebagai jurnalis, orang bisa juga belajar dari Bill Kovach seorang jurnalis Amerika mengenai 9 (Sembilan) elemen jurnalisme. 9 (Sembilan) elemen Jurnalisme Bill Kovach, yakni :
1.   Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran;
2.   Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara;
3.   Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi;
4.   Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya;
5.   Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan;
6.   Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi;
7.   Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan;
8.   Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional;
9.   Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Selamat mencoba…….

Tuesday, October 13, 2015

Ibadah Qurban dan Seluk Beluknya



 Syariat Qurban dan Do’a dalam Menyembelih Hewan Qurban

Ibadah qurban telah lama disyariatkan sebagai bagian bentuk ibadah manusia kepada Allah SWT. Namun sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, adakalanya diterima dan terkadang juga ada yang tidak diterima.

Banyak orang yang mengira bahwa ibadah qurban dimulai pada jaman Nabi Ibrahim. Padahal ibadah qurban ini telah dimulai sejak generasi awal manusia hidup dimuka bumi ini. Hal tersebut sudah dijelas dalam  firman Allah SWT : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil yang berqurban kambing) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil yang berqurban hasil pertanian). (Terjemahan QS. Al-Maidah : 27). Dalam kisah yang lain, Allah SWT juga memberikan contoh hamba-Nya yang sukses besar dalam berqurban yakni Ibrahim sebagai pequrban dan Ismail sebagai orang yang sanggup menjadi qurban.

Qurban berasal dari kata “QURBAN” yang berarti pendekatan. Para ulama memberi pengertian secara istilah bahwa qurban adalah segala hal yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, baik berupa sembelihan maupun lainnya.
Oleh karena itu, wajar bila istilah qurban mencakup berbagai macam obyek sebagaimana diatas. Begitu pula termasuk didalamnya adalah Aqiqah dan Hady (hewan yang disembelih sebagai konsekuensi dalam pelaksanaan ibadah haji). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, /74). Hanya saja karena kata itu lebih sering digunakan untuk menunjuk pada salah satu macam diantaranya yakni berqurban hewan, maka setiap kali diungkapkan lafadz qurban langsung tertuju kepada qurban hewan pada Hari Raya Idhul Adha dan Hari Tasyriq yang sebenarnya untuk itu ada istilahnya sendiri yakni “UDHIYYAH”.

Tidak diragukan bahwa ibadah qurban dalam momentum yang terbatas ini mempunyai fadhilah yang besar. Rasulullah SAW menjelaskan, “Tiada amal anak Adam yang paling disukai Allah SWT pada hari penyembelihan daripada mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan itu akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesungguhnya (pahala) dari darah hewan qurban akan jatuh pada suatu tempat di sisi Allah SWT sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah ini sepenuh kerelaan hati”. (Hadist Riwayat Tirmidzi).

Ada beberapa pendapat mengenai hukum qurban bagi yang mampu yang masing-masing mendasarkan diri pada suatu dalil yang shahih dan definitif yang menjembatani berbagai perbedaan itu yakni sabda Rasulullah SAW,” Aku diperintahkan untuk berqurban, sedangkan itu adalah sunnah bagi kalian”. (Hadist Riwayat Turmudzi). Atas dasar hadist ini, maka semua dalil yang bernada mewajibkan atau ancaman bagi yang tidak melakukan semuanya dimaknai sebagai penguatan penekanan dan dorongan untuk melakukan ibadah qurban tersebut.


SYARAT SAH QURBAN

Dalam melaksanakan ibadah qurban terdapat syarat-syarat yang terkait dengan beberapa aspeknya.

Syarat Hewan Qurban.
Termasuk dari an’am (Unta, Sapi dan Kambing/Domba), baik jantan maupun betina.

Cukup Umur                  .
Bebas dari cacat yang jelas (kece/buta sebelah, sakit, kurus kering, pincang dan cacat yang setara atau lebih parah).

Milik pequrban.
Tidak terikat dengan hak orang lain (misalnya sebagai agunan).

Syarat Terkait dengan Pequrban.
-   Niat. Bagi pihak yang hendak berqurban harus meniatkan penyembelihan hewannya hanya untuk ibadah qurban.
-   Khusus untuk qurban bersama, misalnya satu sapi atau unta untuk tujuh orang, harus satu niat yakni untuk qurban. Tidak sah bila salah satu diantaranya berniat untuk mendapatkan daging semata.

Syarat Terkait dengan Waktu.
Penyembelihan dilakukan dalam rentang waktu antara setelah Sholat Idul Adha sampai maghrib tanggal 13 Dzulhijjah.


KESUNAHAN-KESUNAHAN QURBAN

Sebelum Menyembelih.
-     Memilih hewan yang paling bagus.
-     Pequrban tidak memotong rambut dan kuku mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai saat hewan disembelih.

Saat Menyembelih.
-     Pequrban menyembelih sendiri bila mampu.
-     Menghadapkan hewan qurban ke kiblat.
-   Berdo’a, baik ketika menyembelih sendiri maupun diwakilkan dengan mengucap sebagaimana ucapan Rasulullah dalam riwayat Abu Dawud :

Innii wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wamaa ana minal musyrikiin. Inna salaati wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bizdaalika umirtu wa ana minal muslimin.”
Artinya:                                 
“Aku hadapkan mukaku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenr-benarnya. dan bukanlah aku termasuk orang orang-orang musyrik. sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan karena itu aku diperintahkan dan aku orang pertama-tama masuk Islam”



Dapat mengucap sebagaimana ucapan Rasulullah pada saat yang lain :
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ …..
Bismillah Wallahu Akbar, Allahumma minka wa ilaika, Fataqabbal min … (sebut nama shahibul qurban)
[artinya: Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, terimalah qurban …] (Sumber: Kifayah Al-Akhyar)
Terdapat hadits dalam Shahih Muslim dari ‘Aisyah,
أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ, فَقَالَ: “اِشْحَذِي اَلْمُدْيَةَ” , ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ, وَقَالَ: “بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ” –
Nabi pernah memerintahkan agar diambilkan gibas (domba jantan) bertanduk, kuku dan perutnya hitam dan sekeliling matanya hitam. Lalu gibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan kurban. Beliau pun bersabda, “Asahlah dengan batu pengasah.” Kemudian ‘Aisyah mengasahnya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaringkan hewan tersebut lalu menyembelihnya. Saat menyembelih, beliau mengucapkan, “Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad (Artinya: dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad).” (HR. Muslim no. 1967)


Bersegera menyembelih di hari pertama.


Setelah Menyembelih.
-  Menunggu sampai hewan betul-betul mati sebelum menguliti kulitnya dan memotong-motong daging dan tulang-tulangnya.
-  Pequrban memakan sebagian daging qurbannya dan mensedekahkan selebihnya.


LARANGAN DALAM BERQURBAN

-     Pequrban menjual kulit atau bagian lain dari hewan qurbannya.
-     Menjadikan sebagian qurban sebagai upah.


DISTRIBUSI DAGING QURBAN

-  Tidak ada kriteria khusus sebagai syarat sah atau siapa yang berhak mendapatkan daging qurban, namun semakin membutuhkan tentu semakin bermanfaat.

-    Tidak ada batasan yang pasti mengenai kadar pemberian.

-    Tidak ada pula kewajiban pemerataan dalam membagi daging qurban, namun untuk menjaga agar tidak timbul kesalahpahaman dan perasaan juga penting untuk diperhatikan.

-    Waktu pembagian tidak terbatas sebagaimana akhir masa penyembelihan.

-  Sebatas riwayat yang kami ketahui, pada masa Nabi, daging dibagi dalam kondisi mentah, namun tidak terdapat larangan diberikan dalam kondisi matang.

-  Tidak ada Amil, sebagaimana dalam pengurusan zakat. Untuk mengurus qurban yang ada adalah panitia yang berposisi sebagai wakil pequrban yang bisa menerima upah tetapi bukan dari bagian hewan qurban itu.

                                              

Didapat dari berbagai sumber…..