Sugeng Rawuh Wonten Blog-ipun Piyantun Ndeso nanging Radi Cerdas............
Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Tuesday, June 11, 2013

Parenting : Waktu Khusus Untuk Bunda



Tidak ada istilah hari libur untuk Bunda. Hari-hari selalu dipenuhi dengan kegiatan yang padat. Mulai dari mempersiapkan segala sesuatunya untuk anak-anak berangkat sekolah, mempersiapkan keperluan suami berangkat ke kantor, memasak, membersihkan rumah, mencuci, hingga mendongeng untuk anak ketika akan berangkat tidur.


Aktifitas ini bisa membuat bunda akan merasa jenuh dan bosan. Jika hal ini tidak segera diatasi, bisa menimbulkan stres. Apalagi jika bunda juga bekerja diluar. Karena itu, dibutuhkan waktu khusus untuk bunda merelaksasi diri. Kebosanan atau stres bisa membuat emosi bunda menjadi labil.

Waktu khusus untuk bunda diperlukan agar hidup berjalan seimbang. Momen memanjakan diri baik secara fisik maupun psikis sangatlah banyak manfaatnya. Para bunda jangan ragu untuk menyisihkan waktu sejenak agar juga punya waktu untuk diri sendiri.

Menyisihkan waktu khusus untuk diri sendiri tidak harus menunggu saat libur panjang. Sekitar sepuluh hingga lima belas menit saja sudah cukup untuk bunda benar-benar merasa istirahat total dan tidak merasa bersalah setelah melakukannya.

Pemilihan waktu juga harus benar-benar diperhatikan. Jangan memaksa melakukan kegiatan ini pada waktu yang tidak tepat. Bisa-bisa malah hasilnya jauh dari harapan. Jangankan merasa segar, yang ada justru dirundung rasa bersalah. Sebagai contoh, pengen jalan-jalan ke Mall sendiri. Sesampainya di Mall, malah bingung sendiri dan sedih memikirkan anak yang sedang ditinggalkannya di rumah.

Waktu khusus ini sebenarnya tidak harus dilakukan diluar rumah. Bunda bisa melakukannya didalam rumah dengan melakukan aktifitas yang dianggap paling menyenangkan. Antara bunda yang satu dengan yang lain pasti beda cara mengisi waktu khusus ini. Tolok ukur keberhasilannya adalah perasaan rileks tanpa adanya rasa bersalah. Beberapa bunda mungkin bisa mencampurkan kegiatan waktu khusus ini dengan kegiatan bersama anak. Jadi mengisi waktu ini berbeda-beda pula caranya.

JIka bunda bisa menikmati waktu khusus ini, akan membuat para bunda lebih segar dalam menjalankan aktifitas sehari-hari dengan lebih baik. Dan jangan lupa, konsultasikan pula dengan suami soal waktu khusus ini agar mendapatkan dukungan dari suami.
Bagaimana membuat waktu khusus ini menjadi berkualitas? Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengisinya. Nge-date misalnya. Kata siapa mengisi waktu khusus ini dengan sendirian? Pergi bersama suami bisa dijadikan pilihan, dan sekaligus menghangatkan hubungan. Bisa juga dengan menekuni kembali hobi yang kerap terlupakan ketika mulai berkeluarga. Bisa juga dengan mengisi pagi dengan tidak melakukan apapun, hanya duduk tenang sambil minum teh hangat sebelum memulai hari. Atau juga dengan menjadikan mandi sebagai momen untuk menyegarkan diri sendiri. Nikmati sesi sendiri tersebut dengan guyuran air dan wanginya sabun agar lebih rileks.

Selain itu ada juga pertanyaan, bagaimana menemukan waktu yang tepat untuk memanjakan diri sendiri? Tidak bisa dipungkiri semua manusia itu butuh tidur. Namun tidak ada salahnya membunyikan weker sepuluh atau lima belas menit lebih awal akan membawa perubahan suasana. Nah, gunakanlah waktu ini untuk bermeditasi atau mendengarkan musik. Buatlah jadwal dengan sepengetahuan suami tentunya. Dan penuhi jadwal tersebut seperti bunda memenuhi janji pada seseorang. 

Bisa juga dengan membuat catatan harian, namun jangan di media online karena ada hal-hal yang bersifat privasi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Belilah buku dan mulailah mencatat. Itu bisa dijadikan katarsis saat malam setelah seharian diiisi kegiatan rutinitas yang sangat melelahkan.

Didapat dari berbagai sumber……

Saturday, May 18, 2013

Mengenal Seluk Beluk Fobia dan Penanganannya


Fobia merupakan kecemasan atau ketakutan yang irasional terhadap suatu kondisi tertentu atau terhadap suatu benda. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, dikhawatirkan nantinya akan mengganggu kehidupan normal. Namun, kita juga jangan terlalu larut dalam kekhawatiran, karena ternyata fobia juga bisa untuk disembuhkan.

Penderita kelainan ini mempunyai keinginan kuat untuk menghindari kontak secara langsung dengan situasi atau obyek yang dia takuti dan hal itulah yang akan mengganggu kehidupannya secara tidak langsung. Selain itu penderita ini juga tidak menginginkan reaksi panik atas kejadian yang terjadi karena fobia-nya seperti berkeringat, cemas dan denyut jantung yang bergerak secara cepat. Dan itu dia sadar bahwa reaksi ini merupakan hal yang tidak wajar.

Menghindar dari obyek yang ditakuti atau situasi yang tidak diinginkan oleh penderita adalah hal yang wajar. Namun hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi atau dalam kata lain, tidak akan menyembuhkan kefobia-annya tersebut.

Sebenarnya fobia ini dapat disembuhkan dengan catatan, harus ada keinginan kuat yang timbul dari penderitanya sendiri untuk sembuh. Keluarga dan lingkungan juga harus mendukung agar si penderita bisa cepat sembuh dari kelainan ini. Jika kemauan untuk sembuh sudah ada, maka hal itu mudah untuk dilakukan dengan sistem terapi. Proses penyembuhan bisa dilakukan dengan berkonsultasi dengan ahli atau dilakukan sendiri dengan pengawasan keluarga.

Jika kelainan ini sudah mengganggu aktifitas sehari-hari, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan para psikolog atau dengan psikiater. Selain mengganggu psikologis penderita, kelainan ini juga akan mengganggu kenyamanan hidup dari si penderita. Selain itu, dampak lain juga akan terjadi pada kesehatan fisik penderita. Tangan yang berkeringat dan gemetaran juga akan mengganggu kesehatan jantung penderita karena selalu diliputi dengan kecemasan.

Proses terapi untuk penderita kelainan ini bisa dimulai dengan terapi psikoanalisa. Terapi ini bertujuan untuk menggali mengenai hal-hal apa saja yang dialami oleh penderita sebelum fobia ini muncul. Aliran ini berkeyakinan bahwa sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang akan ditekan sedalam mungkin sehingga dia akan lupa. Seorang psikolog akan mengingatkan kembali mengenai hal-hal apa saja yang telah dialami si penderita untuk mengetahui penyebab fobia-nya.

Langkah selanjutnya adalah dengan mengubah cara berfikir kognitif pasien yang irasional terhadap obyek atau hal-hal yang ditakutkan penderita. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan Cognitive Behavioristic Therapy (CBT). Disini penderita akan diajak sedikit demi sedikit mendekati obyek atau situasi yang ditakutinya. Mulai dari jarak yang terjauh hingga jarak yang terdekat dengan diselipi kalimat motivasi untuk meyakinkan si penderita ternyata apa yang dia takuti sebenarnya hanyalah ketakutan yang tidak masuk akal. Disini seorang psikolog akan diajak masuk ke suasana rileks. Gejala seperti detak jantung yang kencang atau nafas yang terengah-engah diredam dengan suasana yang rileks.

Hal lain yang dilakukan selain terapi bersama psikolog atau psikiater, yakni latihan pernafasan ataupun meditasi untuk belajar bagaimana menredam atau mengatasi serangan panik ketika sedang menghadapi obyek atau situasi yang ditakuti. Latihan seperti ini bisa dilakukan sendiri di rumah.

Didapat dari berbagai sumber…….

Tuesday, December 4, 2012

Parenting : Tips Agar Si Kecil Tidak Pemalu


Ada beberapa anak yang terkadang membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya. Sikap itu bisa dengan aktifnya seorang anak ketika di rumah. Namun, saat bertemu dengan orang lain yang baru dikenalnya, ia malah terdiamkan bahkan menyembunyikan dirinya. Sikap ini disebabkan oeh banyak hal. Bisa juga risih, takut, atau tidak terbiasa berada di lingkungan yang banyak orangnya.
Tidak ada salahnya jika anda mencoba tips berikut ini :

1.   Ajarkan kontak mata kepada anak anda.
Saat anda berbicara dengan si kecil, perintahkan si kecil untuk menatap anda. Katakan pada dia “Lihat mata ayah / mama sayang,” atau “Kalau bicara tatap mata ayah / mama ya”. Dengan pembiasaan seperti itu, maka si kecil akan terbiasa menatap orang lain saat berbicara, sehingga kepercayaan diri si kecil juga meningkat. Dan jika si kecil tidak nyaman melakukan kontak mata, katakan kepada si kecil untuk melihat hidung bagian atas dan akhirnya akan terbiasa melihat mata lawan bicaranya.

2.   Ajarkan kalimat / kata pembuka dan penutup.
Buatlah daftar kata / kalimat untuk membuat si kecil lebih gampang melakukan percakapan. Sebagai misal, bagaimana yang harus dia katakan kepada orang yang dia kenal, kepada orang dewasa, atau kepada orang yang belum dia kenal sama sekali atau mungkin teman barunya di sekolah. Ajarkan dengan rutin agar si kecil merasa nyaman melakukan percakapan. Ada baiknya anda langsung mempraktekkannya dengan menelepon seseorang yang telah dikenalnya.

3.   Kondisikan dalam situasi.
Jangan segan mengajak anak terlibat pada acara sekolahnya yang memungkinkan dia untuk tampil. Bantu pula si kecil dengan bagaimana cara saat bertemu dengan orang lain, melakukan percakapan hingga mengucapkan selamat tinggal dengan baik. Saat anda berkumpul dengan teman-teman anda, usahakan si kecil juga diajak agar bisa bersosialisasi.

4.   Latihlah berkomunikasi dengan anak yang lebih muda.
Tidak ada salahnya untuk mengkondisikan si kecil dengan teman-temannya yang lebih muda, ini biasanya bisa menambah percaya diri si kecil. Bisa dimulai dengan saudara sepupunya yang masih kecil atau teman disekitar rumah.

5.  Satu lawan satu.
Kembangkan komunikasi satu lawan satu. Ada seorang psikolog Dr. Fred Fankel yang mengembangkan metode “One on One Play Dates” yang berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak. Caranya bisa dengan mensituasikan dia dengan hanya memiliki satu teman, dan biarkan mereka beradaptasi selama beberapa jam. Sediakan pula makanan dan minuman ringan serta minimalkan interupsi. Dan jangan biarkan mereka asyik menonton televisi secara sendiri-sendiri atau bermain permainan individu supaya mereka tetap berinteraksi.

Selamat mencoba…..

Didapat dari berbagai sumber….

Friday, November 2, 2012

Parenting : Cara Ideal Mendidik Anak


Tempat pertama untuk mendidik anak adalah keluarga. Disini peranan orang tua dalam pembentukan karakter mereka sangat penting. Mulai dari cara mengasuh mereka, aturan-aturan yang diterapkan dalam keluarga, interaksi antar anggota keluarga, itu semua menentukan perkembangan si anak.

Ada empat gaya yang populer dalam pengasuhan anak. Yang pertama yaitu gaya pengasuhan otoriter yaitu dengan membatasi dan menghukum, menuntut anak untuk menuruti  perintah orang tua dan tidak memberikan peluang yang ada kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Gaya yang kedua yaitu gaya otoritatif, yaitu gaya yang mendorong anak untuk mandiri, namun masih menetapkan batas dan pengendalian terhadap perilaku anak. Gaya ini menunjukkan kehangatan dan kasih sayang kepada anak. Cara yang ketiga yaitu permissive-indifferent. Disini orang tua tidak terlibat dalam kehidupan si anak. Keberadaan si anak seolah-olah tidak penting bagi orang tua.Kemudian yang terakhir adalah gaya mendidik permissive-indulgent. Gaya yang terakhir ini menempatkan orang tua yang sangat terlibat dengan kehidupan si anak, tetapi menetapkan sedikit kendali atau batasan-batasan kepada si anak. Anak tidak belajar untuk mengendalikan diri dan selalu keinginannya dipenuhi. Dari keempat gaya mendidik tersebut, yang ideal untuk diterapkan adalah gaya mendidik otoritatif karena kontrol orang tua dan penerimaan terhadap anak seimbang.

Untuk penerapan dari gaya mendidik tersebut lebih mudah apabila antara ayah dan bunda sejalan atau kompak. Yang menjadi masalah itu jika penerapan antara ayah dan bunda berbeda gaya mendidiknya. Misal, Bunda menerapkan disiplin dan aturan-aturan dalam keluarga, sedangkan ayah cenderung permisif. Itu yang akan membuat kebingungan pada si anak. Orang tua harus mempunyai kesepakatan atas pola asuh yang akan diterapkan, saling mengisi dan berbagi peran. Karena mendidik anak bukan tanggungjawab bunda saja, ataupun sebaliknya. Ayah dan bunda mempunyai peran yang sama. Saling mengisi tersebut bukan berbeda dalam gaya pengasuhan. Jika gaya pengayuhan berbeda, maka anak akan cenderung memilih orang tua yang menerapkan gaya yang mereka anggap paling longgar. Yang diperlukan dalam mengasuh anak itu bukan bagaimana anak itu menjadi takut kepada orang tuan, melainkan bagaimana anak memiliki pengendalian diri yang bagus serta tetap dekat dengan kedua orang tuanya.

Jika ayah bekerja sedangkan bunda adalah ibu rumah tangga sehingga intensitas waktunya lebih banyak bersama anak, ayah tetap harus berperan dalam menerapkan pola asuh untuk anak. Kerjasama antara ayah dan bunda bisa dilakukan dalam hal apa saja. Sebagai contoh, ayah membantu anak dalam hal belajar, sedangkan ibu yang memperhatikan kesehatan si anak. Kuncinya adalah konsistensi orang tua dalam penerapan pola pengasuhan anak serta kesepakatan keduanya dalam mendidik  anak. Apabila kedua orang tua bekerja dan yang mengasuh anak adalah kakek atau neneknya, atau pengasuh, komunikasikan dengan mereka mengenai gaya pengasuhan yang harus diterapkan.

Menyayangi anak tidak harus dengan memanjakan anak atau bersikap yang permisif, bukan pula menjadi pengatur hidup anak tanpa memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan pendapat (otoriter). Komunikasi antara orang tua dan anak sangat mutlak diperlukan. Terkadang orang tua sudah merasa memberikan kasih sayang kepada anak, tetapi apakah anak sudah merasakan kasih sayang tersebut?

Ada bahasa cinta yang kerap diterapkan yakni waktu yang berkualitas, kata-kata positif, sentuhan fisik, pelayanan serta pemberian reward/penghargaan. Waktu yang berkualitas membuat komunikasi antara orang tua dan anak terjalin, kata-kata pujian juga akan membuat anak lebih percaya diri terbentuk, sedangkan sentuhan fisik juga diperlukan sebagai bentuk perhatian orangtua kepada anak. Kemudian pelayanan, yang dimaksud disini  adalah peran orang tua membantu anak dalam batasan yang wajar. Kemudian yang terakhir adalah pemberian reward atau hadiah. Tidak harus mahal yang penting anak bisa berkesan. Jika pola ini bisa diterapkan, diharapkan anak bisa mandiri dan bertanggungjawab.

Didapat dari berbagai sumber……………

Parenting : Bagaimana Membentuk Karakter Si Anak Tunggal ?


Sikap manja cenderung melekat pada anak tunggal. Hal itu bisa terjadi karena berlimpahnya perhatian dari orang tuanya. Ini nantinya yang akan menjadi masalah kelak dikemudian hari. Terkadang ketika orang tua sering memberikan perhatian, jarang sekali orang tua melupakan tuntutan yang dalam spesifik artinya yaitu mendisiplinkan. Kebanyakan treatment dari orang tua terhadap anak tunggal terlalu longgar atau terlalu di berikan banyak toleransi. Jika hal tersebut terjadi, maka yang terjadi adalah anak akan tumbuh seenaknya. Anak tidak tahu bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Harus ditanamkan adanya sikap menghormati dan menghargai sesama.

Mendisiplinkan anak harus dimulai sejak dini. Usia dibawah 10 tahun adalah masa krusial dalam pembentukan karakter anak. Di masa itu kita mengajari anak bagaimana caranya untuk bersikap lebih sabar, bisa berbagi dengan orang disekitarnya dan tidak egois. Sebagai anak satu-satunya dalam keluarga, kondisi yang harus dihadapi adalah dia tidak mempunyai teman berbagi. Nah, untuk mengenalkan konsep berbagi sejak dini, orang tua bisa melatih anak berbagi dengan penghuni rumah, misalnya dengan sopir keluarga atau pembantu yang ada di rumah. Bisa pula dengan anak tetangga, teman mainnya. Disamping itu, kenalkan dia dengan lingkungan pergaulan. Perlu ada sosok kakak atau adik serta teman sebaya. Itu bisa didapat dari saudara sepupu atau teman di lingkungan sekolah maupun rumah.

Jika si anak di usia sekolah, ikutkan dia dalam kegiatan yang banyak bersosialisasi, seperti kegiatan kepramukaan satu misal. Kegiatan itu bermanfaat untuk melatih jiwa tolong menolong dan berbagi dengan yang lain. Dari situ, anak juga bisa belajar untuk tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Orang tua harus juga member contoh kepada anak membiasakan kata kunci seperti, maaf, tolong, terima kasih. Kata-kata tersebut juga bermanfaat dalam pembentukan karakter si anak tunggal untuk selalu menghargai orang lain dan tidak bersikap egois atau seenaknya terhadap lingkungan sekitar. Dan yang paling penting adalah konsistensi orang tua dalam pemberian contohnya. Bila masa krusial 0-10 tahun itu telah lewat, maka kita akan lebih sulit lagi dalam membentuk karakter anak. Bila si anak tidak berkarakter, maka dia akan menjadi monster, menjadi pemberontak, dan pemanja. Apa itu keinginan kita sebagai orang tuanya?

Cara memberikan perhatian dan sekaligus membentuk karakter anak hanya bisa dilakukan apabila orang tua memiliki waktu. Dengan waktu yang longgar, ayah dan bunda bisa merancang berbagai aktifitas bersama si anak. Anak tunggal yang kedua orang tuanya bekerja tentu akan merasa kesepian di rumah. Kita harus waspada jika si anak menjadi anak yang pemurung karena merasa tidak memiliki teman untuk berkomunikasi. Jadi usahakan, luangkanlah waktu untuk si anak. Dan ketika pada rentang waktu orang tua bekerja, pastikan si anak mempunyai teman. Bisa kakek atau neneknya, bisa saudara atau teman-temannya. Itu bertujuan agar si anak tidak merasa kesepian.

Waktu luang bersama si anak bisa kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan bersama yang bertujuan untuk menanamkan norma dan membentuk karakter anak. Sebagai contoh, ajak anak kita ke panti asuhan utuk mengajarkan bagaimana cara menghargai sesama. Orang tua juga jangan ketinggalan dengan perkembangan teknologi. Harus selalu update, sebab anak-anak sekarang selalu update dengan teknologi. Ini perlu karena orang tua harus memberikan batasan dan pengawasan kepada anak-anak. Tidak apa-apa si anak main internet atau game asal tugas utamanya yaitu belajar telah diselesaikan. Jadi jangan terlalu pasif hingga anak kecanduan dengan teknologi tersebut.

Didapat dari berbagai sumber…….